ISTIMEWANYA USIA 40 TAHUN KEATAS
Setiap saat, setiap waktu sering sekali Allah memanggil-manggil kita dengan sangat halus dan lembut agar manusia kembali pada tugas suci yang telah kita pernah berjanji kepadaNya, sebelum kita terlahir dimuka bumi ini kita mengikat perjanjian suci yang sangat pondamental sekali, agar manusia tetap berjalan dengan kefitrahan diri yang telah Allah tanamakna dalam hati ini,
وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” (Al-A’raf : 172)
Untuk menyambut panggilan suci itu manusia dibekali dengan sejumlah seperangkat atau programing sistem yang setiap saat bisa dipergunakan agar hidupnya selalu disahabati Allah Subhanahu wataala, programing sistem itu adalah nikmat pembekalan manusia untuk hidup yang fitrah dan kembali kepada fitrah manusia itu sendiri, ini sudah saya bahas sebelumnya dengan judul memaknai Fitrah manusia.
Terdapat nikmat pembekalan hidup itu yaitu : pertama nikmat potensi Kesadaran tentang ilmu, kedua potensi kecerdasan dan potensi keahlian. Dan nikmat pembekalan itu berupa potensi diri yang harus digali dan diaktivasi dalam proses kehidupan manusia dan untuk bagaimana mengaktivasi potensi ini sudah saya tulis dalam buku berjudul “Mencerdaskan Manusia”.
Dalam kesempatan kali ini, saya akan menulis beberapa panggilan Allah untuk manusia untuk selalu menjalankan panggilan sucinya itu atau fitrahnya agar manusia tetap menjadi manusia seutuhnya, bukan manusia kebintang-bintangan, bukan manusia keiblis-iblisan dan seterusnya, manusia harus menjadi manusia yang memiliki hati yang penuh dengan cahaya kemudian disebut dengan hati nurani, dan manusia yang miliki kecerdasan yang luar biasa dengan otak dan akal pikiranya, serta yang terpenting dengan keimanan yang kuat kepada Allah sebagai tempat sandaran setiap aktivitas kehidupan di dunia ini.
Dan panggilan suci itu dimulai dari panggilan pertama sekitar umur menjelang 40 tahun, mengapa umur 40 tahun ini menjadi istimewa untuk kita bahas, Allah mengisyaratkan untuk mempersiapkan diri pada umur 40 tahun, Nabi kita Muhammad SAW ketika menjelang umur 40 tahun, Allah panggil hatinya untuk bertahanus di Gunung Nur dalam sebuah gua namanya gua hiro, Kanjeng Nabi Muhammad ketika itu mengelami kegelisahan yang sangat untuk mencari darimana panggilan itu bersumber, hampir tiga tahunan Nabi Muhammad bolak-balik ke gua hiro tersebut, dan pada akhirnya Allah menunjukan apa yang menjadi kegelisan Nabi Muhammad itu dengan turunya wahyu yang dibawah oleh malaikat Jibril, sehingga menjadi momentum pertama dan utama untuk menenuhi panggilan berdakwah kepada umatnya, untuk menyampaikan risalah kenabiannya.
Hampir setiap Nabi dan Rosul mendapatkan mandat kenabianya disekitar umur 40 tahunan, sehingga dimur ini merupakan usia yang matang secara fisik dan mental untuk siap memantapkan diri untuk menjemput panggilan suci, dan panggilan suci adalah bagaimana kehidupan itu bukan hanya tentang diri untuk bahagia, tapi tentang diri ini bisa bermanfaat dan berguna bagi umat, bagaimana menata peradaban manusia yang benar yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Nabinya, bermanfaat bagi tetangga, masyarakat dan kehidupan sosial yang lain.
Karena begitu asyiiiknya manusia untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya, mencari dan bertebaran untuk mendapatkan anugerah Allah untuk dinikamati untuk dirinya saja, sedangkan disebelah kanan dan kiri kita membutuhkan bantuan kita, didepan dan belakang kita menanti kebaikan dan kebajikan kita, melupakan kewajiban bertetangga, kewajiban bermasyarakat dan melupakan tugas dakwah amal maruf nahi mungkar.
وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗاُولٰۤىِٕكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana”.
Mengambil peran dalam memberikan pertolongan kepada mukmin yang lain adalah merupan panggilan suci untuk kita laksanakan, seorang muslim memiliki fitrah untuk hadir diantara muslim yang lainnya untuk saling bekerja sama, saling membantu dalam segala hal, untuk saling menyayaingi dan menebarkan kerahmatan dengan sesamanya, dan ini juga ditegaskan oleh anjuran Rosulullah dalam sabdanya :
مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِيْ تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مِثْلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالْحُمَّى وَالسَّهَرِ (رواه البخاري ومسلم عن النعمان بن بشير)
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, saling menyantuni dan saling membantu seperti satu jasad, apabila salah satu anggota menderita, seluruh anggota jasad itu merasakan demam dan tidak tidur”. (Riwayat al-Bukhori dan Muslim dari Nu’man bin Basyir)
Ketika diusia 40 tahun itu merasa kegelisah dan perasaan yang tidak menentu itu tandanya kita sedang dipanggil Allah untuk kembali ke panggialn sucinya, untuk menjalankan kefitarahan kita sebagai manusia untuk memberikan kebaikan dan kebajikan kepada yang lain, berbuat apapun sesuai dengan keahlian dan kemampuan yang dimilikinya, karena hidup itu bukan hanya tentang diri, tapi tentang kita, tentang mereka dan tentang bagaimana menebarkan kerahmatan bagi makhluk yang lainnya. Menjadikan umur 40 tahun menjadi istimewa yang telah dijanjikan Allah dalam QS. Al-ahqaf ayat 15
َتّٰىٓ اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَبَلَغَ اَرْبَعِيْنَ سَنَةًۙ قَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْۗ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
“Sehingga, apabila telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia (anak itu) berkata, “Wahai Tuhanku, berilah petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dapat beramal saleh yang Engkau ridai, dan berikanlah kesalehan kepadaku hingga kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.” Kita mulai kehidupan yang isimewa itu pada umur 40 tahun dan seterusnya, melakukan banyak kebajikan sehingga menambah kecintaan kita kepada Allah SWT, bukan pada usia tersebut kita merasa tua dan beristrihat dalam kehidupan ini, tapi justru kita bergerak untuk mengumpulkan pundi-pundi Rahmat Allah, dan kita tebarkan kepada umat, kepada semesta. Tetap semangat dalam agar sel-sel dalam tubuh kita juga tetap semangat dan mampu meregenerasi secara alamiah, sehingga di usai 40 tahun keatas kita tetap bugar dan sehat, mengalami sakit-sakitan diusah itu karena kita berhenti untuk menebar kebaikan bagi yang lain. Tetap semangat dan tetap berjuang untuk kebaikan. (NS. Olin)