MENYELARASKAN DENGAN RENCANA ALLAH

Setiap aktivitas yang akan dilaksanakan sangat dibutuhkan rencana yang baik, agar tujuan yang akan dicapai mendatangkan hasil yang baik pula, dalam ilmu manajemen salah satu fungsi utama dari manajemen adalah membuat perencanaan yang baik, kegagalan suatu tujuan yang ingin diraih adalah keran kesalahan dalam membuat renacan itu sendiri, karena dalam renacan terdapat penetapan tujuan, karena dalam rencana terdapat pengembilan keputusan, karena dalam rencana terdapat pemilihan alternatif startegi, karena dalam renaca banyak hal yang perlu dipertimbanggan agar tujuan yang sudah ditetapkan berhasil dengan sempurna.

Sejarah telah mencatat bagaimana Kanjeng Nabi Muhammad begitu sempurnanya membuat rencana, sehingga Islam dapat berkembang dengan cepat di Mekah dan Madina hanya membutuhkan waktu 23 tahun saja, Islam menyebar ke dataran jajariah Arab dan penjuru dunia lainnya.

Sebagai contoh ketika dalam kondisi terpojok dan tersulit bagaimanapun Nabi Muhammad dan umat bisa lolos adari jebakan dan anasir jahat dari kaum kafir quraisy pada waktu itu, misalnya kajian hijrah nabi dan umatnya ke Madinah, dengan peranacaan yang matang dan strategis muslimin pada waktu bisa selamat dan sampai ke Madinah tanpa pertumpahan darah, dan hebatnya lagi di Madinah mereka disambut hangat dan mesra dari masyarakat Madinah seakan menyambut saudara-saudara kandungnya yang lama tidak berjumpa, ini adalah bagaimana Rosulullah membuat rencana yang landasi dengan ketaqwaan sangat tinggi, perencanaan ini adalah perecanaan tingkat tinggi, yang memperhatikan semua aspek, bukan hanya aspek ekonomi, politik, sosial, fsikologis dan bahkan memasukan unsur taqwa dalam membuat perencanaan tersebut.

Dalam perencanaan terbaik yang bisa kita pelajari dan teladani dari Rosulullah adalah membaut indaktor terpenting adalah iman dan taqwa, dengan melibatkan indikator itu, Allah dan seluruh alam raya akan mendukung rencana strategis yang kita buat, sehingga tujuan sebesar apapun akan terwujud dengan sempurna.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ 

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan”.

Sebuah rencana jika melibatkan Allah SWT setiap aktivitas dan tujuan kegiatanya, maka tidak yang sulit dan sukar bagi Allah untuk membuat renacana itu menghasilkan lebih dari apa yang kita rencankan, taqwa unsur terpenting dalam membuat rencana, unsur-unsur yang lain akan teratasi dengan mudah. Seperti tersirat dalam QS. Al-Hasyr ayat 18 itu di atas.

Wal tandur berasal dari kata nadoro yang artinya memperhatikan, memperhatikan bukan hanya melihat, tapi melihat secara mendalam, melihat secara mendalam itu ada proses riset atau penelitian dalam memperhatikan sesuatu agar menemukan jawab dari suatu hikmah, dalam ayat di atas kita diperintahkan untuk memperharikan apa yang hendak diperbuat untuk hari esok, dan ini dipahami menjadi bahwa membuat perencanaan yang baik untuk masa depanya, membuat rencana yang baik itu kita sedang menyifati dari asma Allah al-khabir (Maha teliti).

Ketelitian kita dalam menangkap peluang dengan memadukan hambatan yang akan terjadi, karena setiap peluang berpasangan dengan ancaman, setiap kita menemukan peluang atau kesempatan sesuatu yang baik itu juga diharapkan dan diinginkan oleh yang lain, dengan demikian kita akan menemukan pesaing untuk mendapatkanya, mungkin berbeda dengan konsep kerahmatan, setiap diri bisa menjadi berkolaborasi tidak menjadikan posisi pesaing bagi yang lain, setiap ada peluang seharusnya kita mampu melakukan bekerja sama agar mendapatkan kebaikan dari sebuah peluang tersebut.

Dalam sebuah teori untuk memperkuat Perencanaan biasanya akademisi atau kansultan menggunakan analisa SWOT yang ditemukan oleh  Albert S. Humphrey seorang warga Negara Amerika kemudian hijrah ke London Inggris, teori ini cara praktis untuk menjadi terbaik dalam usaha atau bisnis tertentu, dengan menggunakn 4 indikator analisis yaitu Strengths (Kekuatan), Weaknesses (kelemahan), Opportunities (Peluang) dan Threats (ancaman).

Teori SWOT adalah menganalisa internal (kekuatan-kelemahan) dan eksternal (Peluang-ancaman). Merupakan mengidentifikasi setiap potensi diri dan potensi luar yang hasil dati itu akan dibuat untuk keputusan dari sebuah stretgi yang akan dilakukan, dan kesempatan tertentu saya akan menulis dan menjelaskan penerapan strategi ini.

Memang dalam mengambil keputusan untuk masa depan diri, usaha dan apapun dibutuhkan analisa yang mendalam agar kita mampu untuk mengadaptasi diri dari perubahan situasi dan untuk mengurangi keborosan waktu dan biaya agar efektif dan efisien.

Tiga hal pokok kita membuat rencana itu yang perlu diperhatikan, yaitu pertama tujuan, kedua perubahan dan biaya dan waktu. Pertama tujuan, dalam membuat perencanaan kita terlebih dahulu menetapkan tujuan dan target tertentu, ini menujukan tujuan itu sangatlah penting dalam sebuah perjalan, termasuk perjalan hidup, kalau boleh mengembil istilah segala sesuatu tergantung niatnya, niat inilah yang akan mempengaruhi seluruh aktivitas yang akan diperbuat, begitu pentingnya niat sehingga Rosulullah bersabda : Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim).

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

Artinya : “Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal”.

Dan kedua antisipasi perubahan, dalam sebuah proses perjalan aktivitas akan terjadi banyak perubahan, dan perubahan dibutuhkan untuk menyesuaikan strategi bukan untuk merubah tujuan yang telah ditetapkan.

Perubahan terbesar itu dimulai kuranganya kemantapan niat, dan niat itu bersumber dari hati, hati ini yang selalu bolak-balik jika menghadapi permasalah yang datang, karena kurang yakin dengan tujuan yang dibuatnya, ragu akan strategi yang dilakukanya, dan khawatir gagal yang akan mendatangkan kerugian besar, dalam menjalankan misi untuk menacapi tujuan dibutuhkan ketenangan dan keketatapn hati yang kuat, hati yang selalu tidak tenang disebabkan karena kita belum mampu mengatur medan naluri dirinya, satu daiantarnya adalah perasaan khawatir, ragu dan takut yang berlebihan.

الَّذِيْٓ اَطْعَمَهُمْ مِّنْ جُوْعٍ ەۙ وَّاٰمَنَهُمْ مِّنْ خَوْفٍ ࣖ

Artinya : “yang telah memberi mereka makanan untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut”.

Meluruskan niat menjadi solusi terbaik dalam mengatasi seluruh permasalah, seluruh tujuan yang dibuat itu diorentasi karena Allah, dan diniatkan karena Allah, karena semua stiap diri ini memilki kemapuan yang terbatas, maka gantungkan semua kepada Allah yang RahmataNya tidak terbatas.

Dan yang terakhir adalah memeperhatikan waktu dan biaya, ini kaitanya sifat boros dan mubajir yang sering menjadi permasalahn besar bagi pembuat rencana, membuat renacan yang terlau muluk-muluk dan melangit tidak mampu mengukur diri, itu juga sikap yang tidak realitis dan mubajir, menghamburkan semua energi untuk meralisasikan seluruh rencana, mengarahkan seluruh waktu dan biaya berebihan, sehingga kita lupa diri untuk membangun hubungan dengan Allah, terlalu yakin dengan rencana yang dibuatnya, terlalu percaya bahwa keberhasilan itu adalah semua karena usahanya. Dan sikap boros dan mubazir adalah sifat ari setan, maka hindarilah, sesuai dengan QS. Al-Isra’ ayat 27

اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِ ۗوَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا

Artinya : “Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya”.

Lupa yang kepada Allah yang menjadi penentu terbesar dari tertundanya sebuah keberhasilan, keberhasilan,  dalam usaha tidak melibatkan Allah akan menjadikan keberhasilan semu, keberhasilan nisbi yang menipu, dan pada akhirnya akan mengalami kegalauan dan kekosongan batin meski berlimpah harta.

Banyak orang dianggap sukses dalam karir tapi mengalami depersi dan penuh tekanan dalam hidupnya, banyak orang menganggap bisnis sukses besar  dan asetnya begitu berlimpah, tapi hatinya tidak bahagia, karena khawatir akan kehilangan hartanya dan rugi bisnisnya, sehingga untuk sekadar memejamkan mata istirahat begitu sulitnya. Lantas apakah arti kesuksesan itu ?